Kembali ke daftar berita
Kamis, 01 Oktober 2026 Karya Siswa

Layar yang Menyatukan Hati: Pagelaran APSI 2026 SMA Insan Rabbany

Oleh Kholifah, M.Pd.
Layar yang Menyatukan Hati: Pagelaran APSI 2026 SMA Insan Rabbany

Berkarya dalam Bingkai Budaya Indonesia

Lampu teater perlahan meredup. Di kursi-kursi Teater UMN, para orang tua duduk berdampingan dengan anak-anak mereka, menanti layar besar menyala. Malam itu, mereka tidak sekadar menonton film. Mereka akan melihat hasil kerja keras, kreativitas, dan cerita anak-anak mereka sendiri.

Itulah suasana Pagelaran APSI 2026 SMA Insan Rabbany, ajang apresiasi atas pembelajaran kokurikuler berbasis projek. Mengusung tema “Berkarya dalam Bingkai Budaya Indonesia”, para siswa dan siswi tidak hanya duduk di kelas. Mereka menulis naskah, menyusun adegan, berakting, mengambil gambar, hingga menyunting film pendek karya mereka sendiri.

12 Film, 12 Cerita

Setiap kelas menghasilkan satu film pendek, hasil kerja sama seluruh siswa di kelas tersebut. Hasilnya, 12 film dengan judul dan genre yang beragam:

  • Kelas 10: Lensa Budaya, Kita, Pusaka, dan Sora tina Leuweng

  • Kelas 11: Pelita Nusantara, Ambisi, Tafsir Mistik, dan Gendong

  • Kelas 12: Acatalypse, Anjani, Muda Mudi Mulu, dan Sebelum Besok

Dari judul-judulnya saja, terlihat betapa kayanya cara siswa memaknai budaya Indonesia, dari yang bernuansa tradisi dan mistis hingga kisah sehari-hari yang dekat dengan kehidupan remaja.

Haru yang Tak Terbendung

Ketika film pertama bergulir, teater mendadak hening. Sebagian orang tua menatap layar tanpa berkedip. Ada yang menggenggam tangan anaknya, ada pula yang diam-diam menyeka air mata. Bagi banyak orang tua, ini pertama kalinya mereka melihat sisi lain putra-putri mereka: sebagai penulis cerita, sutradara, dan pemeran yang bersungguh-sungguh.

Rasa bangga tumbuh di setiap adegan. Anak yang biasanya hanya terlihat sibuk dengan tugas sekolah ternyata mampu menyampaikan pesan yang dalam lewat karya visual.

Tawa Pecah Saat Sang Anak Muncul di Layar

Suasana haru berganti riuh ketika seorang siswa muncul dalam salah satu adegan. Sorak dan tawa menggema. Orang tuanya spontan berbisik, “Itu anak kita!”, disusul tepuk tangan dari kursi-kursi di sekitarnya. Adegan jenaka, ekspresi kikuk, dan dialog yang mengundang senyum membuat teater terasa hangat dan akrab, seperti menonton bersama keluarga besar.

Cerita di Balik Layar: Perjuangan yang Tak Terlihat

Di balik setiap adegan, tersimpan kisah perjuangan yang membuat para orang tua semakin terkesan.

Rumah yang Berubah Jadi Lokasi Syuting. Seorang orang tua bercerita bahwa rumahnya dipinjam anak-anak sebagai lokasi pengambilan gambar. Yang membuat tertawa, tongkat yang biasa ia pakai untuk berjalan ikut “dipinjam” sebagai properti film. Dari benda sehari-hari itu, lahirlah adegan yang kini bisa dinikmati semua penonton.

“Ternyata Anakku Bisa Akting!” Orang tua lainnya mengaku takjub. Anak yang di rumah tampak biasa saja ternyata mampu menghidupkan karakter dengan meyakinkan di depan kamera. Film ini membuka sisi baru dari putra-putri mereka yang selama ini belum terlihat.

Memanjat Tembok demi Lokasi. Tak semua lokasi mudah dijangkau. Satu kelompok memilih sebuah rumah kosong dengan akses terbatas, sehingga mereka harus memanjat tembok untuk masuk. Peralatan dibawa dengan hati-hati, semangat tetap dijaga, dan hasilnya terbayar lewat suasana adegan yang terasa nyata.

Menunggu Malam untuk Satu Adegan. Ada pula kelompok yang rela menunggu hingga malam tiba demi pencahayaan yang tepat. Berjam-jam menanti, hanya untuk satu take. Di situlah mereka belajar bahwa karya yang baik membutuhkan kesabaran dan ketelitian.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa film pendek tersebut lahir dari kerja sama, kreativitas, dan kegigihan. Setiap tantangan melatih kolaborasi, tanggung jawab, dan ketekunan, nilai-nilai inti pembelajaran berbasis projek.

Apresiasi untuk Para Pembelajar

Pagelaran APSI 2026 membuktikan bahwa belajar bisa menjadi pengalaman yang menyentuh hati. Malam itu, para orang tua memberikan apresiasi tulus kepada anak-anak mereka, dan para siswa pulang dengan kebanggaan bahwa karya mereka dihargai.

Dengan tema “Berkarya dalam Bingkai Budaya Indonesia”, SMA Insan Rabbany menyampaikan satu pesan dari layar Teater UMN: setiap anak memiliki cerita, dan setiap cerita layak mendapat panggung.

-Miss Kholifah-